ANDA BERADA DI DALAM KAWASAN SEKOLAH....JAGA SIKAP ANDA DAN TIDAK MEROKOK SELAMA DALAM KAWASAN INI... DAN JANGAN LUPA MEMBUANG KOMENTAR PADA TEMPATNYA... TERIMA KASIH :)
SELAMAT DATANG DI SEKOLAH...MOHON TIDAK MEROKOK DAN JAGA SIKAP ANDA...

Minggu, 11 Juli 2010

Pentingnya Pembelajaran Mengolah Kata

Bahasa merupakan alat komunikasi antar individual dan kelompok. Penguasaan bahasa yang baik dan benar akan memungkinkan seseorang mampu berkomunikasi secara efektif, baik dalam komunikasi dengan sesama manusia maupun pada saat belajar di kelas. Oleh karenanya, penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi salah satu kunci keberhasilan seseorang dalam belajar.
Penggunaan dan pemilihan bahasa yang tepat menentukan keberhasilan dapat menentukan keberhasilan guru di kelas. Keberhasilan suatu pembelajaran juga ditentukan oleh ketepatan pemahaman guru dalam memilih strategi dan metode pembelajaran sehingga tercipta interaksi dua arah antara guru dan murid, akan tetapi bagaimana jika siswa yang akan diajar memiliki ketidakmampuan berbahasa, khususnya dalam hal tata bahasa baku. Hal ini akan menghambat proses pembelajaran, mengingat bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan, ide maupun pokok pikiran baik secar lisan, tertulis, maupun dengan menggunakan anggota tubuh.
Pada proses kegiatan belajar mengajar diterapkanlah suatu proses pemahaman berbahasa dan untuk lebih mengefektifkan proses tersebut sebaiknya langkah yang harus dilakukan adalah menerapkannya dikalangan sekolah dasar (SD) karena di SD merupakan pondasi atau dasar utama dalam dunia pendidikan, akan sangat sulit bagi murid yang tidak memiliki kemampuan dalam berbahasa utamanya dalam hal mengolah kata karena mereka memiliki sifat tertentu yakni selalu ingin tahu apalagi menemukan sesuatu yang baru.
Dari penerapan di atas, diharapkan murid SD dapat memiliki pemahaman tentang bahasa agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan efektif dan efisien, diharapkan pula mereka dapat mengikuti perkembangan yang ada di masyarakat.
Pemahaman tentang ketatabahasaan pada murid SD haruslah dimulai dari dasar atau pondasi utamanya yaitu bagian terkecil dari bahasa tetapi merupakan unsur dari bahasa itu sendiri, unsur itu lazim disebut dengan kata.
Kata merupakan satuan terkecil dari bahasa, yang merupakan bagian dari kalimat, dapat diuraikan secara bebas dan memiliki makna.
Kata mempunyai dua macam satuan yaitu satuan fonologis dan satuan gramatikal. Sebagai satian fonologis kata terdiri atas satu suku kata atau lebih dan suku kata itu sendiri terdiri dari satu fonem atau lebih. Sebagai contoh, kata membaca terdiri dari tiga suku kata yaitu mem, ba, dan ca, suku kata mem terdiri atas tiga fonem, ba terdiri atas dua fonem, dan ca terdiri dari dua fonem. Sedangkan sebagai satuan gramatikal, kata terdiri atas satu morfem atau lebih, kata membaca terdiri atas dua morfem yaitu morfem mem dan baca. (Krisdalaksana)
Kata yang bermorfem tunggal disebut juga kata dasar atau kata yang tidak berimbuhan. Kata dasar pada umumnya berpotensi untuk dikembangkan menjadi kata turunan atau kata berimbuhan.
Seorang harus memiliki kemampuan mengolah kata-kata menjadi kalimat yang memilik maksud dan tujuan yang dipahami orang lain, begitu juga pada siswa.
Kekurangan pembelajaran di kelas selama ini telah menjadikan siswa tidak memiliki kemampuan mengolah kata. Pembelajaran kadang tidak memungkinkan siswa untuk menyusun kalimat sendiri dalam menjawab persoalan-persoalan tetapi hanya menyalin dari buku. Soal-soal dalam ujian pun demikian. Terkadang guru harus memunculkan soal-soal yang merangsang daya berpikir siswa untuk mengolah kata, seperti pengutaraan pendapat dalam bentuk tulisan.
KLIK DI SINI UNTUK BACA SELENGKAPNYA...

Rabu, 09 Juni 2010

“MENGEMBANGKAN KEPRIBADIAN ANAK”

Kepribadian merupakan organisasi dari faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologi yang mendasari perilaku individual. Kepribadian mencangkup kebiasaan-kebiasaan, sikap-sikap, dan lain-lainnya. Sifat khas yang dimiliki seseorang yang berkembang apabila berhubungan dengan orang lain atau melalui proses belajar terhadap lingkungan sosial.

Kepribadian disebut juga ciri-ciri dan sifat-sifat khas yang mewakili sikap atau tabiat seseorang yang mencangkup pola-pola pemikiran dan perasaan, konsep diri, perangai, mentalitas, yang umumnya sejalan dengan kebiasaan umum
Dasar-dasar pokok dari perilaku seseorang adalah faktor-faktor biologis dan faktor-faktor psikologis yang dapat mempengaruhi pembentukan kepribadian secara langsung, misalnya seseorang mempunyai cacat fisik dapat mempunyai sifat rendah diri. Faktor psikologis yang dapat mempengaruhi pembentukan kepribadian adalah unsur temperamen, perasaan, keinginan, kemampuan belajar, dan sebagainya. Dengan ditunjang dengan faktor-faktor sosiologis yaiti sikap berperilaku sesuai dengan keinginan kelompoknya.
Keinginan setiap individu dalam suatu masyarakat akan berbeda dengan kepribadian dari kelompok lain. Pembentukan kepribadian bagi seseorang sangat dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat tempat individu tersebut menjadi anggotanya.
Bagian kebudayaan yang secara langsung mempengaruhi kepribadian seorang individu pada umumnya antara lain:
1.Kebudayaan khusus atau dasar faktor kedaerahan.
2.Cara hidup dalam lingkungan masyarakat yang khas (misalnya di desa atau di kota) kebudayaan khusus kelas sosial yang dapat dilihat dari beberapa cara berpakaian, cara mengisi waktu senggang, etika pergaulan, dan sebagainya.
3.Kebudayaan khusus atas dasar agama.
4.Pekerjaan atau keahlian (profesi).

Unsur-unsur dari kepribadian yaitu :

1.Pengetahuan
Pengetahuan berupa kemampuan untuk membentuk konsep dan untuk mengembangkan cita-cita, gagasan, ilmu pengetahuan, dan karya seni. Pengetahuan merupakan unsur mendasar dari perilaku seorang yang akan mendasari kepribadian orang tersebut baik dalam melakukan interaksi sesama kelompoknya maupun berinteraksi dengan kelompok lain. Hal ini juga akan sangat membantu dalam pencarian jati diri dan kemampuan seseorang untuk pencapaian keinginan terhadap sesuatu.
2. Perasaan
Perasaan merupakan keadaan dalam kesadaran manusia karena pengaruh pengetahuannya dinilai sebagai keadaan positif (menyenangkan) dan negatif (tidak menyenangkan). Dengan kata lain perasaan adalah sesuatu yang muncul dari diri yang dapat menilai sesuatu baik dalam keadaan baik maupun dalam keadaan buruk yang kemudian di pilah menjadi bagian yang berbeda antara satu dengan yang lain
3. Dorongan Naluri
Dorongan naluri adalah kemauan yang sudah terkandung dalam organisme dan merupakan bawaan lahir seperti dorongan untuk mempertahankan hidup, mencari makan, bergaul, mencari sesamanya, keindahan, berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan sebagainya. Dorongan naluri adalah sesuatu yang membuat seseorang melakukan sesuatu pilihan walaupun tanpa sadar tetapi dapat melakukan sesuatu sesuai kebutuhannya baik menurut akal maupun instingnya. Dorongan naluri membuat seseorang dapat melakukan sesuatu pilihan yang bermanfaat ataupun yang tidak bermanfaat buat dirinya maupun kelompoknya.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Kepribadian
-Keturunan (hereditas).
Faktor-faktor keturunan yang berbeda-beda menentukan batas-batas yang tidak mungkin dilampaui oleh masing-masing individu dan batas-batas itu terpengaruh terhadap perkembangan sosialnya. Perbedaan faktor keturunan misalnya: jenis kelamin, kecerdasan, ukuran tubuh, kekuatan jasmani, kecantikan, dan sebagainya.
- Lingkungan Alam.
Perbedaan lingkungan geografis misalnya dipegunungan, didaerah pertanian, dilingkungan pantai, pedesaan, perkotaan, dan sebagainya akan menyebabkan perbedaan kepribadian seseorang. Sebagai contoh kepribadian orang Pinrang yang daerahnya merupakan daratan pertanian umumnya tentu berbeda dengan kepribadian orang Makassar yang berada pada lingkungan perkotaan yang padat dan penuh dengan masalah kompleks yang sangat individual. Begitu pula jika itu dibandingkan dengan orang Mandar yang sebagian penduduknya hidup pada lingkungan pantai dan bermata pencarian sebagai nelayan.
-Lingkungan Kebudayaan.
Lingkungan kebudayaan memiliki perbatasan atau pengaturan tingkah laku bagi anggota masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan setiap masyarakat secara tidak langsung mempunyai tipe kepribadian tertentu yang dikehendaki lingkungannya. Kebudayaan merupakan perwujudan dari warisan nenek moyang atau kebiasaan awal orang terdahulunya, kebudayaan juga ditentukan oleh kebiasaan sebuah kelompok berdasarkan adat istiadat setempat yang melahirkan bentuk karakter serta sifat kepribadian individu dalam kelompok tersebut
-Lingkungan Sosial.
Kepribadian seseorang yang terbentuk disebabkan oleh pengaruh lingkungan sosial merupakan bentuk asimilasi dari hubungan interaksi antara individu lainnya, individu dengan kelompok lainnya atau hubungan interaksi antar kelompok satu dengan kelompok yang lain yang membentuk watak dan sifat kepribadian baru dari hubungan tersebut. Sebagai contoh seseorang yang hidup atau berada antara dua daerah yang berbeda karakter, sifat maupun bahasanya secara tidak sengaja akan membentuk kebiasaan yang dimilki oleh dua daerah yang berlainan tersebut bahkan bahasa kelompok atau individu yang hidup antara dua tempat berbeda suku, adat istiadat serta bahasa akan membentuk kebiasaan baru bahkan bahasa yang baru sebenarnya mencerminkan keadaan atau kondisi daerah antara kelompok daerah ini. Interaksi sosial ini sangat memungkinkan kepribadian unik oleh seseorang atau kelompok ini

Menurut F.G. Robbins, ada lima faktor yang menjadi kepribadian yaitu : Sifat Dasar, Lingkungan Prenatal (lingkungan kandungan ibu), Perbedaan Individual, Lingkungan, dan Motivasi.

LANGKAH-LANGKAH YANG DAPAT DITEMPUH DALAM PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN ANAK :

1. Penanaman Disiplin Yang Membangun
Perilaku anak dibatasi dengan aturan dan tata tertib tertentu. Prasyarat aturang untuk membatasi anak haruslah yang : Konsisten (tidak berubah), Jelas, memperhatikan harga diri anak, beralasan dan dapat dimengerti, adanya hadiah berupa pujian bila aturan dilaksanakan dengan baik, ada hukuman jika aturan tidak dilaksanakan, Luwes (tidak kaku), melibatkan anak, tegas, dan tidak emosional.
2. Meluangkan Waktu bersama
3. Mengembangkan Sikap Saling Menghargai
4. Memperhatikan dan Mendengarkan Pendapat Anak
5. Membantu Mengatasi Masalah
6. Melatih Anak Mengenal Diri dan Lingkungannya
7. Mengembangkan Kemandirian
8. Memahami Keterbatasan Anak.
9. Menerapkan Nilai Agama Dalam Kehidupan Sehari – hari

Mengembangkan kepribadian anak dan mendidiknya merupakan hal yang sangat mutlak dilakukan oleh orang tua dan pendidik disekolah dengan tujuan bahwa anak tersebut kelak dapat dan mampu melakukan hal-hal diluar kemampuan orang lain baik secara individu maupun dalam sebuah kelompok bahkan dalam sebuah bangsa.
KLIK DI SINI UNTUK BACA SELENGKAPNYA...

Pengajaran Kecerdasan Emosional di SD

Kecerdasan emosional bagi anak, khususnya pada usia sekolah dasar haruslah dengan menyentuh sisi emosional anak lebih efektif. Hal ini diperlukan untuk membantu anak dalam mengelola emosinya dengan baik sehingga emosional yang ada pada anak dapat dikembangkan secara optimal.

Beberapa pengajaran kecerdasan emosional yang dapat diterapkan di sekolah dasar antara lain:

1.Mengajar dengan memberi teladan.
Istilah "Guru kencing berdiri, siswa kencing berlari" cukup mengajarkan kepada kita bahwa teladan merupakan hal penting dalam pembelajaran. Anak didik dapat belajar dari apa yang mereka saksikan secara langsung, karena itu kita harus dengan tenang membahas sebuah masalah, menguraikan segala sesuatunya, dan menimbang sebuah pemecahan yang kemungkinan mereka dengan sendirinya mulai menghargai dan meniru perilaku tersebut. Seorang tenaga pendidik sebaiknya menjalankan kewajibannya dengan baik dan dapat menjadi teladan, seperti bahwa di sekolah itu mereka harus tahu tentang apa kewajiban dan hak mereka. Mencontohkan proses pemecahan masalah dalam belajar maupun hal lain pada anak didik akan membantu kecerdasan emosional mereka. Yang perlu kita ingat adalah ”Pemecahan masalah adalah proses yang jawabannya tidak selalu benar atau salah”(Shapiro)
Dengan demikian mengajar dengan memberi teladan kepada anak didik untuk mampu menerapkan proses yang sama pada setiap masalah dan konflik yang mereka hadapi.

2. Mengajar dengan mengubah kelakuan dan pola pikir anak
Metode ini merupakan terobosan yang memodifikasi perilaku kognitif. Dalam metode ini perhatian pada pengubahan mata rantai antara pikiran dan perbuatan. Pengajaran ini bukan hanya penting bagi anak didik ketika mereka menghadapi masalah atau konflik, akan tetapi ini merupakan dasar pembentukan kecerdasan emosional anak
Langkah yang dapat kita lakukan sebagai tenaga pendidik adalah mengusahakan anak didik memisahkan diri dari masalah yang dihadapinya, sehingga anak harus dapat memandang masalah itu di luar dirinya. Kita dapat mengembangkan sebuah pendekatan kognitif yang menggunakan berbagai macam kegiatan menulis untuk membantu menjauhkan jarak antara anak dan masalah mereka.
Suatu pengajaran harus mengusahakan anak didik membayangkan masalah mereka dengan cara baru sampai mereka mulai meyakini pikiran-pikiran baru tersebut. Selanjutnya keyakinan baru ini memungkinkan munculnya perasaan dan perilaku yang berbeda.Sehingga masalah apapun yang harus dihadapi anak didik termasuk rasa takut dan cemas juga masalahbelajar dapat dikuasai oleh mereka.

3. Mengajarkan keterampilan berpikir realistis dan optimisme.
Berpikir realistis adalah lawan membohongi diri sendiri, kita dapat mengajarkan dengan membacakan buku ataupun karangan sendiri tentang kisah-kisah keteladanan. Sehingga akhirnya anak akan belajar berpikir secara realistis mengenai masalah-masalah atau kepentingan mereka jika berbuat serupa.
Banyak orang yang tidak menyadari besarnya pengaruh cerita terhadap perilaku anak. Kisah-kisah dari kitab suci, legenda-legenda, dan dongeng juga ikut mencetak nilai-nilai dan membentuk sikap anak terhadap diri sendiri dan orang lain.
Cerita menjadi cara efektif untuk mengajarkan keterampilan berfikir realistis dan optimis. Hal tersebut secara tidak langsung mampu mempengaruhi cara berpikir dan perilaku anak didik. Hal ini dikarenakan mereka senang mendengarkan atau dibacakan cerita berulang –ulang yang dipadukan dengan imajinasi anak.
Anak didik dapat diajarkan bersikap lebih optimis sebagai salah satu cara bertahan terhadap depresi dan ancaman gangguan mental secara fisik lain. Optimisme bersumber dari cara berfikir realistis serta dari kesenpatan-kesempatan untuk menghadapi tantangan, kemudian menguasai cara-cara menghadapi masalah tersebut.

4. Mengajarkan keterampilan bercakap-cakap.
Bercakap-cakap merupakan keterampilan komunikasi sosial yang lebih dari sekedar berbicara. Keterampilan bercakap-cakap dapat dilakukan pada setiap pertemuan dengan anak didik karena keterampilan itu membantu anak didik masuk ke dalam pergaulan baik perseorang ataupun kelompok.
Banyak anak yang mempunyai masalah pergaulan karena lemah dalam mengungkapkan kebutuhannya kepada orang lain dan sulit memahami kebutuhan dan keinginan orang lain.
Keterampilan bercakap-cakap meliputi berbagai informasi pribadi, mengajukan pertanyaan kepada orang lain, mengekspresikan minat, dan mengekspresikan penerimaan. Semua hal tersebut dapat diterapkan tenaga pendidik dalam setiap pengajaran.

5. Mengajarkan menjalin persahabatan
Mempunyai ”teman yang paling akrab” adalah fase pertumbuhan penting yang dapat mempengaruhi cara anak didik menjalin hubungan dengan orang lain. Meskipun tidak dapat memaksa anak didik bergaul dengan anak-anak lain, kita sebagai tenaga pendidik dapat mencontohkan bagaimana teman-teman dapat memainkan peran penting dalam kehidupan kita sehari-hari.
Keterampilan ini dapat diterapkan dalam pengajaran dengan metode kelompok. Karena di dalam kelompok tersebut anak didik mulai menikmati kebersamaan dengan yang lainnya dan secara serius dengan menunjukkan minat dalam hubungan mereka bercerita pengalaman-pengalaman untuk menekankan nilai-nilai persahabatan.

6. Mengajar dengan pelatihan membuat solusi

Penelitian terkini menunjukkan bahwa kita terlalu rendah menilai kemampuan anak-anak dalam memecahkan masalah, serta menemukan bahwa kemampuan itu dapat berkembang dengan campur tangan kita. Tidak banyak orang dewasa yang menyadari betapa dininya anak-anak dapat diajari cara memecahkan masalah-masalah mereka sendiri
Tiap usia memerlukan penekanan yang berbeda dalam mengajarkan pemecahan masalah kepada anak. Ketika anak pertama kali bersekolah, mereka dapat mulai belajar cara membuat bermacam-macam solusi untuk suatu masalah atau soal. Kemudian ketika berusia delapan atau sembilan tahun, mereka mempunyai kemampuan menimbang kelebihan dan kekurangan pada setiap alternatif dan memilih solusi yang paling baik.
Cara efektif yang dapat kita lakukan untuk melatih anak dalam membuat solusi terhadap suatu masalah adalah membantu anak didik mengembnagkan kemampuannya untuk menimbang kelebihan dan kekurangan pada setiap alternatif dan memilih solusi yang paling baik.
KLIK DI SINI UNTUK BACA SELENGKAPNYA...

Sabtu, 05 Juni 2010

Model pembelajaran part 2, sub judul : Mengajarkan Kelipatan Persekutuan Terkecil pada pembelajaran matematika

Sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya yaitu model pembelajaran, akan diberikan beberapa model pembelajaran selain yang telah dibahas sebelumnya.

Tetapi sebelum itu, saya ingin menceritakan kisah saya yang berhubungan dengan tulisan kali ini. Ketika mengikuti pelatihan beberapa waktu lalu, saya terkesan oleh salah satu pembawa materi “pembelajaran matematika di kelas”. Waktu itu pemateri tidak membawakan materi model – model pembelajaran tetapi telah menunjukkan satu cara pengajaran matematikan yang menurut saya adalah suatu model pembelajaran yang bagus untuk diterapkan di kelas pada pembelajaran matematika, khususnya memperkenalkan materi Kelipatan Persekutuan Terkecil.
Waktu itu, kami (peserta pelatihan) diminta berhitung sesuai urutan kursi dari kiri ke kanan hingga barisan berikutnya pun demikian. Kemudian kami diminta mengingat-ingat bilangan kami masing-masing.
Setelah itu, pemateri meminta peserta yang “memegang” bilangan kelipatan 2 untuk berdiri, yaitu peserta yang memegang bilangan 2,4,6,8,10,12,14,16,18,20. Setelah itu, pemateri meminta peserta yang “memegang” bilangan kelipatan 4 untuk berdiri juga, yaitu bilangan 4,8,16, dan yang bukan diminta duduk. Setelah itu, giliran peserta dengan kelipatan 8, yaitu 8,16 diminta berdiri sementara yang lainnya duduk. Kami pun mengikuti semua instruksi dari pemateri tanpa tahu kami akan diapakan. Awalnya kami merasa lucu karena beberapa dari kami ada yang harus berdiri dan duduk, bahkan ada yang tidak tahu harus duduk atau berdiri karena lupa dengan angka yang mereka “pegang” atau tadi pada saat pembagian angka kurang konsentrasi.

Pemateri memandangi kami yang berdiri, kemudian meminta yang tidak pernah duduk sejak instruksi pertama hingga instruksi terakhir untuk tetap berdiri lalu berkata,”yang berdiri ini (angka 8) adalah angka Kelipatan Persekutuan dari bilangan 2, 4, dan 8” dan merupakan kelipatan persekutuan yang paling kecil atau Kelipatan Persekutuan Terkecil"

Ada juga cara lain yang kurang lebih sama, yaitu meminta siswa bertepuk tangan setelah membagi mereka dalam kelompok-kelompok kelipatan bilangan tertentu. Kelompok siswa yang bertepuk tangan adalah mereka yang angka kelompoknya disebut. Angka tertentu yang “menyebabkan” semua kelompok bersamaan bertepuk merupakan kelipatan persekutuannya.

Ini memang sederhana tapi cukup efektif dan kita bisa mempraktekkannya di kelas dengan mudah.

Beberapa model pembelajaran yang lain berikut langkah-langkahnya adalah :
1.NUMBERED HEADS TOGETHER (SPENCER KAGAN, 1992)
Langkah-langkahnya :
•Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
•Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
•Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
•Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
•Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain
•Kesimpulan

2.COOPERATIVE SCRIPT (DANSEREAU CS., 1985)
3.Skrip kooperatif :
metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari
Langkah-langkahnya :
•Guru membagi siswa untuk berpasangan
•Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
•Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
•Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya.
•Sementara pendengar :
•Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap
•Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya
•Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
•Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan Guru
•Penutup

4.KEPALA BERNOMOR STRUKTUR (MODIFIKASI DARI NUMBER HEADS)
Langkah-langkah :
•Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
•Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomor terhadap tugas yang berangkai Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya.
•Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka
•Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain
•Kesimpulan

5.STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD)
TIM SISWA KELOMPOK PRESTASI (SLAVIN, 1995)
Langkah-langkahnya :
•Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
•Guru menyajikan pelajaran
•Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
•Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
•Memberi evaluasi
•Kesimpulan

6.JIGSAW (MODEL TIM AHLI)
(ARONSON, BLANEY, STEPHEN, SIKES, AND SNAPP, 1978)
Model ini cocok diterapkan pada kondisi dimana sejumlah siswa telah menguasai materi dan beberapa siswa yang lain belum.

Langkah-langkah :
•Siswa dikelompokkan ke dalam = 4 anggota tim
•Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
•Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
•Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
•Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
•Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
•Guru memberi evaluasi
•Penutup

7.PROBLEM BASED INTRODUCTION (PBI)
(PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH)
Model pembelajaran ini paling tepat digunakan untuk pembelajaran yang membutuhkan eksperimen sebagai pembuktian teori.

Langkah-langkah :
1.Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan. Memotivasi siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2.Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
3.Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
4.Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
5.Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
KLIK DI SINI UNTUK BACA SELENGKAPNYA...

Rabu, 02 Juni 2010

Kecerdasan emosional, apakah itu?

Multiple intelligence atau kecerdasan majemuk bukanlah lagi istilah asing di dunia pendidikan. Penghargaan terhadap kecerdasan lain, selain IQ, menyebabkan timbulnya istilah-istilah kecerdasan lain yang salah satunya adalah kecerdasan emosional. Istilah kecerdasan emosional pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psycholog Salovey dari Harvard University dan Mayer dari University Of New Hampshier. Mereka mendefenisikan kecerdasan emosional sebagai berikut:
Himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan

Sekarang ini, kita pada akhirnya mengakui bahwa kecerdasan intelektual tidak cukup untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan. Dominasi otak kiri telah bergeser dan kedudukannya digantikan oleh otak kanan yang berpengaruh langsung pada kecerdasan emosional. Kini arah pendidikan tidak lagi mementingkan kecerdasan otak kiri Intelektual Queontion yang lazim disebut headstart. Kini yang lebih dipentingkan adalah kecerdasan emosional yang lebih banyak menggunakan otak kanan atau heartstart.
Pada metode headstart anak ditekankan ”harus bisa” sehingga ada kecenderungan anak dipaksa belajar, hal ini membuat anak stress, karena ketidaksesuaian dengan dunia bereksplorasi yang sedang dialaminya. Sebaliknya, pola hearstart menekankan pentingnya anak belajar dengan cara menyenangkan (joyful learning) dan terlibat aktif sebagai subjek bukan menjadi objek (active learning).
Banyak ilmuwan percaya bahwa emosi manusiawi kita terutama berkembang melalui mekanisme kelangsungan hidup, seperti rasa takut telah melindungi kita dari bahaya dan membuat kita berfikir tentang cara menghindari bahaya. Rasa takut terkadang menjadi penolong kita dalam mengatasi hambatan-hambatan untuk mendapatkan yang kita butuhkan

Kematangan emosional sangat menentukan keberhasilan dan prestasi seseorang sehingga kecerdasan emosional mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan hidup

Kecerdasan emosional memiliki lima unsur yaitu :
1.Kesadaran diri (self awarness): mengetahui apa yang kita rasakan pada suatu saat, dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan sendiri, memiliki tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat.
2.Pengaturan diri (self regulation): mengenai emosi kita sedemikian rupa sehingga berdampak positif kepada pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup menunada kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran serta mampu segera pulih kembali dari tekanan emosi.
3.Motivasi (motivation): menggunakan hasrat kita yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun menuju sasaran, membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif serta untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.
4.Empati (Empathy): merasakan yang dirasakan orang lain, mampu memahami perspektif meraka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan orang lain. Empati merupakan kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan dan kepentingan orang lain.
5.Keterampilan sosial (social skill): menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial. Dalam berinteraksi dengan orang lain keterampilan ini dapat dipergunakan untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah, dan menyelesaikan perselisihan, serta untuk bekerja sama dan bekerja dalam tim atau kelompok.


Faktor-faktor yang mempengaruhi atau menunjang kecerdasan emosional, yang menjadi modal utama dalam kesuksesan seorang adalah :
1.Jujur dan dapat diandalkan.
2.Bisa dipercaya dan tepat waktu.
3.Bisa menyesuaikan diri dengan orang lain.
4.Bisa bekerja sama dengan orang lain.
5.Bisa menerima dan menjalankankewajiban.
6.Mempunyai motivasi kuat untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas.
7.Berpikir bahwa dirinya berharga.
8.Bisa berkomunikasi dan mendengarkan secara efektif.
9.Bisa bekerja mendiri dengan kontrol terbatas.
10.Dapat menyelesaikan masalah.

Kecerdasan emosional itu penting karena begitu banyak kita jumpai anak-anak yang begitu cerdas di sekolah, begitu cemerlang prestasi akademiknya, namun bila tidak dapat mengolah emosinya, seperti mudah marah, putus asa, atau angkuh dan sombong maka prestasi tersebut tidak banyak bermanfaat bagi dirinya.

Sebagaimana Ariestoteles pernah berkata ”semua orang bisa menjadi marah, tetapi kepada orang yang tepat, pada tempat dan waktu yang tepat, untuk tujuan dan dengan cara yang benar adalah tidak mudah.”
KLIK DI SINI UNTUK BACA SELENGKAPNYA...

Selasa, 01 Juni 2010

Model-model pembelajaran

Apakah yang dimaksud dengan meodel pembelajaran? Apakah sama dengan strategi pembelajaran? Beberapa istilah dalam proses pembelajaran memang memiliki kemiripan makna dan kadang kita bingung menarik garis pembeda diantara istilah-istilah tersebut. Beberapa istilah dalam proses pembelajaran diantaranya adalah pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, teknik pembelajaran, taktik pembelajaran, dan model pembelajaran.

Model pembelajaran tentu saja berbeda dengan strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran merupakan kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Sedangkan Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran, atau satu kesatuan yang utuh dari pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran.

Berikut beberapa model pembelajaran :

1. TWO STAY TWO STRAY oleh SPENCER KAGAN 1992
MEMBERI KESEMPATAN KEPADA KELOMPOK UNTUK MEMBAGIKAN HASIL DAN INFORMASI DENGAN KELOMPOK LAINNYA.
Cara pelaksanaannya :
- Siswa bekerja sama dalam kelompok yang berjumlah 4 (empat) orang
- Setelah selesai, dua orang dari masing-masing menjadi tamu kedua kelompok yang lain
- Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi ke tamu mereka
- Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain
- Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerja mereka

2. TARI BAMBU
Agar siswa saling berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dalam waktu singkat secara teratur strategi ini cocok untuk materi yang membutuhkan pertukaran pengalaman pikiran dan informasi antar siswa
Cara pelaksanaannya :
- Separuh kelas atau seperempat jika jumlah siswa terlalu banyak berdiri berjajar . Jika ada cukup ruang mereka bisa berjajar di depan kelas. Kemungkinan lain adalah siswa berjajar di sela-sela deretan bangku. Cara yang kedua ini akan memudahkan pembentukan kelompok karena diperlukan waktu relatif singkat.
- Separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran yang pertama
- Dua siswa yang berpasangan dari kedua jajaran berbagi sinformasi.
- Kemudian satu atau dua siswa yang berdiri di ujung salah satu jajaran pindah ke ujung lainnya di jajarannya. Jajaran ini kemudian bergeser. Dengan cara ini masing-masing siswa mendapat pasangan yang baru untuk berbagi. Pergeseran bisa dilakukan terus sesuai dengan kebutuhan

3. KELILING KELOMPOK
Maksudnya agar masing-masing anggota kelompok mendapat kesempatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota lainnya
Cara pelaksanaannya :
- Salah satu siswa dalam masing-masing kelompok menilai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang mereka kerjakan
- Siswa berikutnya juga ikut memberikan kontribusinya
- Demikian seterusnya giliran bicara bisa dilaksanakan arah perputaran jarum jam atau dari kiri ke kanan

4. TAKE AND GIVE
MEDIA :
- Kartu ukuran ± 10x15 cm sejumlah peserta tiap kartu berisi sub materi (yang berbeda dengan kartu yang lainnya, materi sesuai dengan TPK
- Kartu contoh sejumlah siswa
- CONTOH Kartu :
Langkah-langkah :
- Siapkan kelas sebagaimana mestinya
- Jelaskan materi sesuai kompetensi yang ingin dicapai
- Untuk memantapkan penguasaan peserta tiap siswa diberi masing-masing satu kartu untuk dipelajari (dihapal) lebih kurang 5 menit
- Semua siswa disuruh berdiri dan mencari pasangan untuk saling menginformasi. Tiap siswa harus mencatat nama pasangannya pada kartu contoh.
- Demikian seterusnya sampai tiap peserta dapat saling memberi dan menerima materi masing-masing (take and give).
- Untuk mengevaluasi keberhasilan berikan berikan siswa pertanyaan yang tak sesuai dengan kartunya (kartu orang lain).
- Strategi ini dapat dimodifikasi sesuai keadaan
- Kesimpulan

5. TEBAK KATA
MEDIA :
Buat kartu ukuran 10X10 cm dan isilah ciri-ciri atau kata-kata lainnya yang mengarah pada jawaban (istilah) pada kartu yang ingin ditebak.
Buat kartu ukuran 5X2 cm untuk menulis kata-kata atau istilah yang mau ditebak (kartu ini nanti dilipat dan ditempel pada dahi ataudiselipkan di telinga.
Langkah-langkah :
- Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai atau materi ± 45 menit.
- Guru menyuruh siswa berdiri berpasangan di depan kelas
- Seorang siswa diberi kartu yang berukuran 10x10 cm yang nanti dibacakan pada pasangannya. Seorang siswa yang lainnya diberi kartu yang berukuran 5x2 cm yang isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan ditelinga.
- Sementara siswa membawa kartu 10x10 cm membacakan kata-kata yang tertulis didalamnya sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud dalam kartu 10x10 cm. jawaban tepat bila sesuai dengan isi kartu yang ditempelkan di dahi atau telinga.
- Apabila jawabannya tepat (sesuai yang tertulis di kartu) maka pasangan itu boleh duduk. Bila belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi jawabannya.
- Dan seterusnya
CONTOH KARTU



6. COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) (STEVEN & SLAVIN, 1995)
Langkah-langkah :
- Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen
- Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
- Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas
- Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok
- Guru membuat kesimpulan bersama
- Penutup
KLIK DI SINI UNTUK BACA SELENGKAPNYA...

Senin, 31 Mei 2010

CARA MENENTUKAN TEMA PADA PEMBELAJARAN TEMATIK SD

Peserta didik kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) sehingga pembelajarannya masih bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialaminya. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa pembelajaran tematik diberikan kepada anak kelas I – III SD. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD kelas I – III yang terpisah untuk setiap mata pelajaran, akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik.

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik. Sedangkan tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan.

Tujuan dilaksanakannya pembelajaran tematik adalah :
 Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
 Peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama;
 Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
 Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik karena mengkaitkan berbagai mata pelajaran dengan pengalaman pribadi dalam situasi nyata yang diikat dalam tema tertentu
 Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.

Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan dan peserta didik mampu melihat hubungan yang bermakna antar mata pelajaran

Pembelajaran menjadi utuh sehingga peserta didik akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-pecah. Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaan konsep akan semakin baik.

Yang menjadi permasalahan pokok kemudian adalah bagaimana menentukan tema yang tepat sehingga dapat mengikat semua mata pelajaran yang harus dikuasai peserta didik.
Dalam memadukan atau mengikat pelajaran-pelajaran menjadi satu tema perlu diperhatikan syarat-syaratnya :
 Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan
 Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester
 Kompetensi dasar yang tidak dapat dipadukan dapat diajarkan tersendiri
 Kompetensi dasar yang tidak tercakup dalam tema tertentu harus diajarkan baik melalui tema lain maupun berdiri sendiri
 Kegiatan ini ditekankan kepada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung serta penanaman nilai-nilai moral
 Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat, lingkungan, dan daerah setempat
Jika syarat-syarat tersebut telah diketahui, maka penentuan tema bias dimulai dengan tahapan persiapan terlebih dahulu berupa :
 Pemetaan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dalam Tema
 Penetapan Jaringan Tema
 Penyusunan Silabus
 Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Dalam mengembangkan indikator, ada beberapa hal yang harus diperhatikan :
 Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik
 Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran
 Dirumuskan dalam kata kerja oprasional yang terukur dan/atau dapat diamati

Setelah pemetaan dan jaringan tema telah selesai, langkah berikutnya adalah menentukan tema yang sesuai. Ada dua cara menentukan tema :
 Cara pertama, mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai.
 Cara kedua, menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerjasama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

Dalam penetuan tema harap diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :
 Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan peserta didik
 Dari yang termudah menuju yang sulit
 Dari yang sederhana menuju yang kompleks
 Dari yang konkret menuju ke yang abstrak.
 Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri Peserta didik
 Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan Peserta didik, termasuk minat, kebutuhan, dan kemampuannya

Hal terakhir adalah penyusunan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, serta pembuatan jadwal atau roster meski beberapa berpendapat bahwa roster tidak diperlukan dalam proses pembelajaran sebab pembelaran tiap hari yang dihadapi peserta didik adalah tematik, sehingga tidak ada lagi pengkotak-kotakan bidang studi seperti Bahasa Indonesia, Matematika, dan lain-lain, akan tetapi penyusunan jadwal tetaplah diperlukan supaya perencanaan pembelajaran lebih terarah.
KLIK DI SINI UNTUK BACA SELENGKAPNYA...

Minggu, 30 Mei 2010

SILABUS PEMBELAJARAN TERPADU

Pengembangan silabus dimaksudkan untuk menjawab ketentuan dalam mengoptimalkan pembelajaran. Penyusunan silabus mengacu pada perangkat komponen-komponen dalam Kurikulum Berdasar Standar Isi 2006 yang disusun oleh Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional. Daerah dan atau sekolah yang mempunyai kemampuan mandiri dapat menyusun silabus sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya setelah mendapat persetujuan dari Dinas Pendidikan setempat (Propinsi, Kabupaten/Kota) Dinas Pendidikan setempat dapat mengkoordinasikan sekolah-sekolah yang belum mempunyai kemampuan mandiri untuk menyusun silabus.

Dengan menyusun silabus, guru diharapkan dapat mengembangkannya sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah. Dan silabus yang disajikan di dalam buku ini mengacu pada Buku Pembelajaran Terpadu dengan Pendekatan Tematik untuk masing-masing kelas yang merupakan satu kesatuan dengan buku tersebut KLIK DI SINI UNTUK BACA SELENGKAPNYA...